Idenya datang dari Syaikh Hisyam –Guru nahwu kesayangan saya- Murabbi luar biasa yang hanya ada satu di dunia, di sela materi yang beliau sampaikan. Saat itu Beliau memberikan satu soal dan ternyata saya dan teman-teman tidak ada yang punya nyali untuk menjawabnya. Hingga akhirnya beliau menyampaikan satu kalimat yang akhirnya saya jadikan sebagai tajuk.
“Kesalahan” adalah sebuah hal sangat mengerikan, setidaknya bagi orang-orang yang menakutinya. Dan saya rasa jumlahnya tak sedikit (termasuk saya di dalamnya). Ketakutan ini bukanlah tanpa alasan. Ada banyak alasan yang menjadikan “kesalahan” pantas untuk ditakuti. Dan tiap individu memiliki alasan yang berbeda. Salah satu alasan yang bisa saya ajukan adalah ‘malu’.
Ya… rasa malu adalah alasan yang pantas. Ada banyak orang yang merasa malu ketika ia melakukan kesalahan ataupun gagal dalam melakukan sesuatu (dalam hal yang positif tentunya…). Ketika rasa malu telah menguasai seseorang maka tidak ada lagi hasrat untuk mengoreksi kesalahan ataupun hasrat untuk bangkit dari kegagalan. Di kemudian hari tak ada lagi keinginan untuk mencoba hal yang baru karena akan ada perkataan sinis dari dalam hati “ Pasti hasilnya akan sama saja…” atau “ Pasti saya akan gagal lagi…”.
Alasan yang lain adalah takut ditertawakan. Saya rasa tidak ada orang yang suka ditertawakan karena kesalahan atau kegagalan yang ia lakukan. Dengan demikian ia pun menjadi alasan yang pantas. Gawatnya, di Indonesia ini sepertinya hal tersebut telah menjadi hal yang lumrah, termasuk di kalangan para orang berilmu, para akademisi. Saking mendarah dagingnya hal tersebut hingga seringkali terjadi secara reflek. Padahal di luar negri, Syiria misalnya, hal itu adalah sesuatu hal yang tak boleh dilakukan.Ada banyak alasan yang lain. Namun, menurut saya dua hal yang saya ketengahkan adalah yang paling mendominasi. Yang perlu digaris bawahi adalah bahwa “kesalahan” di sini adalah dalam hal yang positif.
Lalu alasan kenapa kita harus berbahagia saat kita melakukan kesalahan adalah kita akan belajar untuk mengoreksi, mencari, kemudian melakukan yang benar. Lagipula jika tak ada kesalahan maka kita tidak akan bisa menikmati indahnya kebenaran. Jika tak ada kegagalan kita tidak akan bisa merasakan manisnya kemenangan.
Bersedih karena sebuah kesalahan dan kegagalan adalah sebuah kewajaran. Namun, jangan sampai kita tepuruk dan tenggelam di dalamnya. Kita hanya perlu bangkit dan mencoba lagi. Jangan lupa doa ya…
Tidak rumit bukan…^^
0 comments:
Post a Comment